Sunday, September 28, 2008

Mudik


Oleh: Taufik Arbain
Fenomena mudik di daerah ini menarik dicermati. Yang jelas teori-teori sosial berkaitan dengan mudik tetap kokoh untuk menjelaskanya, bahwa faktor-faktor pengidentifikasian diri yang dilekati oleh perubahan status sosial dari semula di kampung (daerah asal) kemudian menetap di kota (daerah tujuan) hingga mudik ke kampung dalam beberapa waktu adalah fakta tak terbantahkan soal pengidentifikasian diri.
Apalagi hal ini diikuti dengan adanya acara kenduri, bagi-bagi zakat,
sedeqah dan sumbangan dengan sanak saudara dan orang-orang di kampung memberikan kepuasan tersendiri bagi mereka yang mudik dan keluarga yang didatangi pemudik.
Meskipun semula soal mudik ini didasari oleh aspek religius yakni melakukan silaturahmi, menziarahi makam orangtua, menjengok dan berbagi bahagia lebaran dengan keluarga besar yang lama tidak bertemu. Momentum lebaran adalah yang paling tepat. Meningkatnya kesejahteraan dan lancarnya transportasi adalah variabel inter vening yang turut memberikan kontribusi nilai-nilai baru dalam agenda mudik. Artinya faktor-faktor religius menyatu dengan soal pengidentifikasian status sosial tadi.
Di Kalimantan Selatan misalnya, daerah Hulu sungai dan Kotabaru sebenarnya bisa dikatakan dua daerah yang paling banyak didatangi pemudik. Meskipun tidak ada data yang menjelaskan berapa persen mereka yang melakukan mudik ke daerah asal tersebut, namun melihat data out migration dua daerah tersebut dalam dekade terakhir sangat dimungkinkan terjadinya arus mudik jika mengacu dari teori migrasi Everett Lee (push-pull factor theory) yang didukung oleh faktor migrasi kembali dari Ravienstien.
Ragam alasan mengapa mereka meninggalkan daerah asal/kampung halaman. Motif ekonomi adalah alasan yang paling banyak mendominasi penjelasan dari para ahli migrasi. Rendahnya kesempatan kerja di daerah asal mendorong mereka menuju ke kota atau ke daerah yang memberikan mereka pekerjaan baik menjadi pedagang, buruh bangunan, buruh tambang maupun menjadi buruh tani dengan melakukan migrasi permanen dan non permanen. Mudik dari kalangan yang menempuh pendidikan adalah pengecualian dalam penjelasan ini.
Ini membuktikan out migration dilihat menurut etnis, realitasnya adalah penduduk setempat atau penduduk asli yang meninggalkan daerahnya termasuk daerah yang kaya tambang, tetapi tidak ada kesempatan untuk bekerja. Fakta ini bisa dikomparatifkan tingginya in migration ke daerah tambang adalah penduduk luar dari etnis tempatan. Soal ini saya jadi bertanya-tanya, ada apa dengan daerah ini hingga menyebabkan tidak terakomodirnya dengan baik penduduk tempatan bekerja di perusahan-perusahaan tambang atau perkebunan di tanahnya sendiri?
Maka tidaklah heran, jika arus mudik dari Banjarmasin menuju Hulu sungai dan Kotabaru akan mendengarkan dialek tempatan dimana daerah asal. Tetapi jika melihat arus mudik dari daerah Hulusungai dan Kotabaru menuju sentral transit tujuan (Banjarmasin) maka akan mendengarkan dialek bukan tempatan.
Perkara ini mengingatkan saya dengan novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata yang lagi booming saat ini hingga difilmkan. Jika banyak orang setelah membaca novel ini memberikan tafsir soal ketulusan dan keikhlasan seorang guru bernama Muslimah dan murid-murid miskin yang tinggal di sekitar perusahaan tambang timah.
Saya justru melihat adanya gugatan yang dilakukan Andrea tentang pertentangan kelas sebagaimana teori yang dibentangkan Max Weber. Salah satunya kesempatan mendapatkan pekerjaan yang layak tidak sekadar menjadi kuli perusahaan tambang timah, sehingga Andrea menulis; ” mereka yang tinggal di pemukiman modern perusahaan timah memiliki nama Susilo, Cokro, Ivonne, Setiawan, Kontoro, tak ada Muas, Jamali, Sa’indun, Ramli atau Mahader seperti nama orang-orang Melayu....”(2007:42).
Fakta dalam novel ini sebenarnya mirip dengan penduduk yang ada di sekitar daerah tambang di Kalsel. Demikian pula kehadiran pemudik dengan data out migration dari penduduk tempatan adalah bukti kesempatan kerja di daerah asal sangat rendah.
Saya ingin jelaskan dalam tulisan ini, bahwa persoalan mudik ini tidak sekadar dibaca aspek sosiologi saja dari penegasan identitas dan status sosial dalam momentum lebaran. Tetapi lebih dari itu ada hal-hal yang memiriskan mengapa fenomena mudik yang justru dilatarbelakangi dari ketidakadilan dan susahnya mencari kesempatan kerja di tanah leluhur mereka sendiri, bahkan terkadang menjadi orang asing.
Namun yang justru saya sangat heran, kemarin ketika mudik menuju Hulusungai sepanduk yang menawarkan barang-barang konsumtif dipromosikan dengan 50%+ 20 %. Sesuatu yang jarang ditemui tahun-tahun sebelumnya ada spanduk di tengah sunyi, padang hantu.
Ketika mobil saya berada di Muara Tapus, teman saya di kampung menyapa di pinggir jalan sambil berteriak; ” Taufik hari raya hampir Prak! Maksudnya parak atau sudah dekat. Sebuah kalimat yang lama tidak saya dengar. Hampir Prak!***(idabul,29 September 2008)

1 comment:

Kamal Ansyari said...

Tolong jaga dan lestarikan alam hutan Loksado dari penambang-penambang yang hanya menginginkan uang dan harta tanpa memikirkan kerusakan hutan nantinya.
Hutan ini adalah warisan untuk anak cucu kita di masa depan.