Sunday, January 9, 2011

Pambalah Batung

Oleh: Taufik Arbain

Judul di atas bukan bercerita tentang para pembesar dari Maharaja kerajaan Negara Dipa abad 13, tetapi berkaitan dengan pelayanan publik yang dilakukan oleh instansi Rumah Sakit Umum (RSU) Pambalah Batung Amuntai, HSU. Setidaknya tulisan ini merupakan endapan informasi yang sudah lama didengar, untuk memastikan kebenaran dan banyaknya kasus atas peristiwa yang hampir sama berkaitan dengan pelayanan publik.

Nyatanya tidak disangka, ketika saya mengunjungi keluarga yang sakit di RSU Ulin Banjarmasin rujukan dari RSU Pambalah Batung semakin membenarkan dugaan saya, lebih-lebih saat santai di ruang loby Aster lantai 3, bercakap-cakap dengan seseorang yang ternyata mengurusi keluarganya meninggal seminggu lalu, juga berasal dari rujukan RSU Pambalah Batung.
Saya seperti biasa melakukan investigasi dan pendalaman pertanyaan tentang layanan yang dilakukan oleh pihak RSU Pambalah Batung. Jawabannya hampir sama dengan beberapa kasus yang saya dengar termasuk dari keluarga yang saya kunjungi kala itu.
Pertama, bahwa para perawat yang melayani pasien terkesan cuek, bahkan alas kasur yang jelas sisa orang lain, tidak diganti justru menyuruh kepada keluarga pasien untuk mengganti sendiri. Saya kira apakah petugas-petugas ini karena melayani orang-orang dari kampong yang miskin sehingga seenaknya dan menganggap mereka tidak memiliki kekuatan atau keluarga jauh yang bisa menerima aduan mereka?
Kinerja buruk termasuk kebersihan ruangan sekalipun kelas paling bawah, saya kira bukan berarti dengan perlakuan demikian. Orang-orang yang saya tanyai dan atau pernah mengadu kepada saya seakan mendapatkan pelayanan prima di RSU Ulin, ketika mereka membandingkan pelayanan di RSU Pambalah Batung dengan RSU Ulin Banjarmasin.
Kedua, dari kasus yang saya temuai hampir rata-rata ditangani oleh dokter. Tetapi mereka mendapatkan layanan yang kurang maksimal. Bahkan ketika ditanyakan apa penyakit dan penjelasan lainnya tidak mendapatkan informasi yang seharusnya mereka dapatkan. Jawabanya,” tunggu saja”. Keluarga pasien bahkan harus menebus obat yang cukup mahal untuk ukuran di masyarakat di Kabupaten. Lagi-lagi obat-obat yang ditebus justru semakin membuat pasien parah. Apakah kesalahan melakukan diagnosa? Sehingga kekeliruan pula dalam memberikan resep obat?
Bahkan ada salah satu pasien rawat inap tidak mendapat layanan diagnose akhir, kecuali mendengarkan keluhan pasien lalu diberikan resep obat hingga beberapa hari. Ketika ada keluhan baru dari pemberian resep obat dan ditanyakan ke dokter, jawabannya, ”itu efek dari obat”. Sebuah jawaban yang tidak memberikan informasi sebagai hak pasien. Keluhan keluarga pasien rata-rata setelah diberi obat resep dari dokter RSU Pambalah Batung justru tambah drop, sesuatu yang terbalik ketika diberi obat oleh dokter RSU Ulin. Alhamdulillah, akhirnya pasien bisa pulang dengan sehat, dan biaya yang standar sesuai dengan pelayanannya.
Pelayanan yang buruk dan obat yang teramat mahal ditebus pasien di RSU Pambalah Batung patut dipertanyakan. Apakah ada kemungkinan bisnis berkedok kemanusiaan lewat institusi Rumah Sakit? Saya kira wakil rakyat HSU dan wakil rakyat daerah pemilihan HSU harus mencermati persoalan yang dihadapi masyarakat. Bagaimana bisa menuntaskan IPM HSU dan kesehatan penduduk jika ada pihak-pihak tertentu yang sangat buruk memberikan layanan kepada publik, tetapi berharap banyak fasilitas yang disediakan pemerintah.
Saya kira keluhan-keluhan yang dihadapi masyarakat HSU atas layanan RSU Pambalah Batung sudah sering, tetapi tidak didengar dan dianggap angin lalu. Pemerintah Daerah harus segera menangani persoalan ini, dimana tidak sekadar berkaca pada laporan-laporan dari Dinas Kesehatan dan Pihak Manajemen Rumah Sakit, namun juga melakukan cek dan ricek ke lapangan atas layanan yang diberikan, demikian pula wakil rakyat daerah agar tidak selalu bahimat menangani persoalan yang dianggap ada “keuntungan financial “semata, tetapi yang terpenting berkaitan dengan keselamatan dan hak pasien khususnya orang-orang miskin. Jika masih saja diam, Terlalu!! kata Rhoma Irama.(idabul, 3 Januari 2011)

2 comments:

Lukmanul said...

kaini aja kah? kada di bongkar seberataan?

Novea Alkahfi said...

Tdk hanya bagi pasien yg pernah berobat di sana. Bagi segelintir org yg bahkan tdk layak disebut pekerja disana pun sama. Sama2 mengecewakan.